
Play/Download
Ari Rumaidi adalah salah salah satu mahasiswa Informatikan PTS swasta
terkemuka di Jakarta bertinggi badan 170 cm dan berat badan 58 kg,
berkumis tipis, tidak begitu kekar memang akan tetapi otaknya sangat
brilian dalam hal mengotak-atik serta pemograman komputer. Ia juga
mempunyai bengkel servis Handphone yang ia kelola sendiri dengan si
Mamat tukangnya. Biasanya liburan semester seperti ini Ari pulang ke
rumah neneknya di Bandung atau pulang ke rumah orang tuanya di Semarang,
akan tetapi liburan kali ini Ari sedikit malas dan ia pilih
mengotak-atik elektronik di kios sevis HP-nya di salah satu Mall
terkemuka di Jakarta.
"Selamat siang Ari," sapa suara cewek lembut nan menawan.
"Yach.. siang.." jawab Ari seraya medongakkan kepalanya ke arah suara itu.
"Eh.. Shinta.. tumben kemari, dari mana saja kamu?" tanya Ari.
Shinta adalah "kembang kampus" ditempat Ari kuliah dan Ari sudah
mendengar selentingan bahwa Shinta juga sering gonta ganti laki-laki
namun Shinta dan Ari beda fakultas. Kadang Shinta terlihat berjalan
bareng dengan cowok muda cakep kemudian ganti dengan om-om senang,
lantas beberapa waktu lalu Shinta akrab dengan Sony teman sefakultas Ari
dan baru beberapa minggu mereka tidak terlihat lagi bermesraan.
"Ini Ar! HP-ku ngadat tolong betulin yach.." seru Shinta seraya menyerahkan HP-nya kepada Ari.
"Tumben Ar nggak liburan ke Bandung, kan di sana banyak mojang-mojang nan menawan?" selidik Shinta.
"Nggak.. males saja mendingan cari duit, sini coba aku periksa," kata Ari seraya berdiri meminta kemudian memeriksa HP Shinta.
"Ar! emmhh.. bisa ditunggu nggak," tanya Shinta.
"Nggak usah dech.. entar malem aku anterin ke rumah kamu, kasih saja alamatnya." kata Ari dengan menyodorkan secarik kertas.
"Itung-itung main ke rumah kamu, aku kan belum pernah sama sekali." sambung Ari.
"Thanks.. tapi gue punya kartu nama khok, nich" Shinta menyodorkannya kepada Ari.
"OK, tunggu entar malem yach jam 19:30" sahut Ari.
"Jangan Ar! jam 21:00 saja, soalnya aku ada janji dengan keponakan gue," cegah Shinta.
"Ehem.. keponakan apa kepenakan?" ledek Ari.
"Iiich.. sebbel dech.." kata Shinta sambil mencubit lengan Ari. Ari
hanya bisa meringis saja dan melihat Shinta berlenggok ria dengan
pingulnya yang aduhai.
"Huuhh.." keluh Ari.
Memang, siapa yang tidak kenal dengan Shinta di kampus itu, disamping
dia anak pejabat ia juga betul-betul cantik. Tubuhnya sekitar 167 cm,
badannya tinggi langsing dan kulitnya kuning langsat bak pengantin,
namun ia juga terkenal sombong dan materialistis dimata cowok maupun
cewek. Payudaranya seksi 36 dan rambutnya tergerai indah. Bibirnya seksi
kelihatan kecil namun tebal dan bergigi indah apalagi kalau tersenyum
dengan lesung pipitnya. Ari sendiri orangnya liberal namun tidak pernah
berpikiran buruk terhadap gadis manapun, ia hanya berkonsentrasi pada
bisnisnya.
Pukul 20:00 Ari mulai memacu Kijang hadiah ulang tahunnya yang ke-20
dari ayahnya dua tahun lalu dan hampir 45 menit Ari sudah menemukan
alamat Shinta. Ari sengaja berpakaian santai mengenakan celana pendek
komprang dan T-shirt made in Dagadu bermotifkan kartun lucu karena
disamping ke rumah Shinta ia sebenarnya akan main ke rumah Sri pacarnya
untuk menyerahkan HP teman sekost Sri. Ia lantas membelokkan kijang
kesayangannya itu ke arah gerbang kemudian turun untuk memencet bel.
"Treett.. Treett.. Treett.." suara bel telah berbunyi.
Agak lama ia menunggu kemudian datanglah pembantu Shinta untuk membukakan gerbang.
"Nggak usah dibuka Bik, aku cuman nitip ini buat Shinta." sergah Ari sambil menyerahkan HP Shinta kepada Bik Ijah.
"Ngg.. tapi Mas, tadi Non Shinta pesen kalo ada Mas Ari disuruh masuk
dul.." belum habis Bik Ijah berkata kata Shinta menyahut dari kejauhan.
"Ari.. masuk dulu, soory aku habis mandi nich.. aku tunggu di ruang tamu yach!" teriak Shinta.
Ari tidak menjawab, segera setelah Bik Ijah membukakan gerbang ia
memasukkan kijangnya ke halaman namun Ari sempat melirik ke gumpalan
pantat Bik Ijah yang masih padat.
Rumah itu berhalaman luas dan berhiaskan taman nan elok serta kolam ikan lengkap dengan air mancurnya.
"Mas Ari mau minum apa?" tanya Bik Ijah setelah Shinta menyilakan Ari duduk.
"Jahe hangat boleh?" jawab Ari singkat.
Sebelum Bik Ijah menghilang dari depan Ari, ia melihat Bik Ijah sempat memberikan senyuman genitnya kepada Ari.
"Dasar genit.. tapi bahenol juga itu Bibik," batin Ari sambil melirik ke
arah Shinta dan Shinta tersenyum penuh arti di mata Ari.
"Aku baru saja datang dari rumah Sony, kami pun bertengkar hebat karena
Sony orangnya pencemburu berat," Shinta mencoba menjelaskan.
"Lagian dia juga.." Shinta menghentikan pembicaraannya sejenak dan matanya menerawang jauh.
"Dan akhirnya kami pun berpisah.." imbuh Shinta datar, Shinta kemudian
menyilangkan kedua pahanya yang bulat mulus itu, tungkainya kecil dan
indah.
"Dilihat dari tungkainya, Shinta mempunyai nafsu seks besar dan tenaga
si Sony rupanya tenaga ayam.." batin Ari, dalam hati Ari sendiri pun
sudah mendengar kalau Shinta itu hasrat seksnya meledak-ledak bak
merapi, hal itu dia dengar dari salah seorang sahabatnya yang pernah
menjadi gacoan Shinta. Dari penjelasan Shinta, Ari tidak percaya 100%
dilihat dari mimiknya yang tidak serius dan kata-kata Shinta yang tak
sempat terucap tadi. Ari sendiri adalah cowok bertubuh langsing bukan
atletis dan dilihat dari tinggi dan kepalan tangannya, penis Ari pasti
lebih dari cowok-cowok lainnya. Panjangnya sekitar 15 cm dengan diameter
3 cm, Ari sendiri pandai berolah gerak di ranjang dan tanpa
sepengetahuan teman-teman lainnya Ari sudah seringkali diajak kencan
oleh tante-tante girang di Jakarta.
"Sorry, aku pakai ginian nggak pa-pa kan, abis mandi kan biar segar.."
Shinta mencoba memohon karena ia hanya memakai sleeping jas tanpa BH.
Kedua putingnya terlihat menggunung tegak ke depan sehingga kedua
putingnya tersembul merangsang di balik sleeping jasnya.
"Nggak pa-pa kok, santai saja.. malah.. oh nggak.." kata Ari.
"Malah apa Ar.. kamu senang, kan?" tanya Shinta diikuti silangan kedua pahanya yang mulus.
"I.ii.iya.. eh.. nggak.." jawab Ari sekenanya.
"Nggak pa-pa Ar, kita udah sama-sama besar kok," seru Shinta menetralkan suasana kaku yang tiba-tiba menyelimuti mereka.
"Silakan diminum jahenya Ar?" kata Shinta mempersilakan Ari.
"Terima kasih Shint, oh iya nich HP-mu udah betul, kalo ada komplain
hubungi aku yach." jawab Ari seraya meneguk habis jahe bikinan Bik Ijah.
Entah dicampur dengan ramuan apa jahe itu sehingga tubuh Ari terasa
lebih hangat dan berdesir kencang darahnya. Bik Ijah memang pembantu
yang hebat, selain dia pintar memasak dia juga pandai mebuat minuman
berkhasiat.
"Bik Ijah memang masih muda sekitar 32 tahunan menurut taksiran Ari dan
ia adalah bukan janda juga bukan gadis karena ia telah ditinggal entah
kemana oleh suaminya sekitar 3 tahun lalu," jelas Shinta. Shinta lantas
mencoba HP-nya dan ia meminta Ari keluar, ke halaman sebentar karena ia
akan menghubungi HP Ari.
"Yach Shin.. suaranya bagus kok," jawab Ari singkat.
"Entar dulu jangan di tutup dulu," sergah Shinta.
"Emang ada apa Shint? udah bagus kok suaranya aku terima," kata Ari sambil berjalan ke arah ruang tamu kembali.
"Emmh.. kamu mau nggak tidur di sini entar malem?" pinta Shinta.
Ari kaget bukan kepalang karena hal ini tidak pernah ia bayangkan sama
sekali dan ia tiba-tiba setengah gugup, sejenak ia terdiam namun
batinnya bergejolak karena minuman jahe hangat dicampur telor bebek,
merica dan madu murni.
"Mmm.. tapi.." kata Ari.
"Nggak pa-pa Papiku lagi ke Surabaya kok, biasa ada proyek dan Mamiku lagi ke Bandung karena ada acara keluarga," kata Shinta.
"Jangan ngeres dulu akh.." imbuh Shinta.
"Eh siapa yang ngeress, aku cuman bingung.. kan ada Bik Ijah!" sergah Ari.
"Aaakh.. ngak usah pakai alasan macem-macem, pokoknya mau kagak?" tanya Shinta.
"Boleh.." sahut Ari singkat.
"Kalo gitu kita ke ruang tengah saja yach sambil lihat televisi atau
film bagus karena aku punya koleksi baru dari Papi saat dinas ke luar
negri.." ajak Shinta.
Berdua mereka menuju ke ruang tengah nan luas itu, berhamparkan karpet
hijau muda dan bantal bantal dacron besar. Di sisi ruangan itu ada
sebuah sofa panjang mengahadap ke kolam renang Ruangan itu terpisah
dengan ruang lain dan hanya terhubung dengan sebuah pintu, menghadap ke
kolam renang di samping rumah. "Kolam renang itu sendiri terisolasi dari
ruangan lainnya dan sangat privacy sekali apalagi berdua dengan dara
cantik," Ari menghela nafasnya dalam-dalam.Sedetik tubuh Ari mulai
nyaman di lingkungan baru tersebut, lantas mengambil sebatang kretek
76-nya kemudian mengambil tempat duduk di karpet. Shinta lalu
menceritakan tentang diri dan keluarganya yang sudah terancam hancur,
papinya punya WIL dan maminya juga sering berganti-ganti gigolo untuk
melampiaskan hasratnya.
Malam semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:30, Ari
dan Shinta masih terpaku di hamparan karpet menyaksikan acara TV yang
kelihatan membosankan. Berkali-kali Shinta memindah channel akan tetapi
tidak ada yang menarik kemudian setelah ngomong kepada Ari Shinta
menyalakan VCD semi XX.
"Mau nggak liat BF daripada acaranya membosankan, aku punya dua nich?" tanya Shinta.
"Aku sich seneng saja.." jawab Ari datar dikuti kepulan asap harum kretek kesukaannya.
"Ach sialan, emang lo yang nggak seneng apaan?" kata Shinta sambil menyalakan VCD XX-nya.
Kedua insan itu ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati anggur merah kesukaan Shinta dan sesekali saling cubit.
Meskipun bukan pacarnya, akan tetapi Shinta adalah teman akrab Ari untuk
tempat belajar mata kuliah yang Shinta sendiri tidak mampu
mengatasinya. Biasanya Shinta konsultasi mata kuliah dengan Ari di
bengkel kerja Ari di Mall dan sehabis itu Shinta traktir makan siang.
Tak lebih dari itu memang hanya sebatas hubungan baik dan Ari juga tidak
berani bertindak lebih jauh lagi karena takut Shinta tersinggung
ataupun Ari bukan type Shinta.
Pada adegan ranjang, wajah Shinta nampak mulai memerah tegang menahan
hawa nafsunya. Kedua pahanya yang sejak tadi diam kini mulai kelihatan
gelisah dan ia coba untuk digesek-gesekkan sendiri. Ari tahu memang apa
yang sedang dialami Shinta dan juga pernah dialami oleh Sri, pacarnya.
Shinta dengan sedikit kaku mendekatkan diri kepada Ari dan berbisik,
"Ar! mau nggak kamu puasin aku malam ini?" tanya Shinta mengharap. Tanpa
menjawab Ari kemudian mendekatkan diri ke shinta yang bersandar pada
sofa, lengannya dilingkarkan di pundak Shinta kemudian Ari membisikkan
sesuatu ke telinga Shinta.
"Kamu horny malam ini Shin?" tanya Ari.
"Akkh.. pake nanya lagi, mumpung lagi sepi.." kata Shinta sewot seraya mendaratkan french kiss di bibir Ari.
"Bik Ijah kemana..?" tanya Ari.
"Mau main berdua dengan Bik Ijah, kata Sony sich mainnya Bik Ijah lembut menghanyutkan." imbuh Shinta.
"Tapi entar lo puasin gue dulu nanti kalo memang aku udah ngilu kita
gantian." kata Shinta kemudian merebahkan dirinya di pangkuan Ari.
"Mmmpphh.. aku ingin kehangatanmu malam ini Arr, karena tak ada lagi
yang aku dapat harapkan.." pinta Shinta sambil meraba penis Ari yang
sudah mulai setengah tegang.
"Mmpph.. punyamu panjang and besar.. benar dugaanku.." bisik Shinta.
"Kamu pasti akan menggelinjang kegelian nikmat Shin." sahut Ari seraya mendaratkan french kiss.
Berdua mereka sudah hanyut dalam buaian cumbuan penuh birahi, Ari
sendiri sudah sibuk dengan pekerjaan tangannya di kedua bukit kenyal
Shinta yang semakin kenyal saja. Tubuh Shinta menggeliat bak cacing
kepanasan dan perlahan tangan Ari turun ke arah perut Shinta melepas
tali sleeping jasnya. Kini sleeping jas telah terbuka dan tubuh Shinta
mulai kelihatan mulusnya, di sudut selangkangannya tumbuh rambut-rambut
halus terawat dan tepat di bawahnya ada segumpal daging yang merekah
berwarna pink.
Tangan Ari turun ke bawah lagi untuk menggapai vagina Shinta yang sudah
mulai membasah, dengan tetap mencumbui bibir Shinta Ari mulai membuka
bibir luar vagina Shinta yang tebal seksi itu.Kedua jari telunjuk dan
jari tegahnya ia buka membentuk huruf V. Tangan "V" Ari itu mulai
menggosok lembut, mengapit, menjepit lembut dan sesekali dibuka lebih
lebar lagi. Sementara jempolnya menekan lembut klitoris Shinta untuk
memberikan sentuhan yang luar biasa nikmatnya. Tubuh Shinta kini oleng
diiringi desahannya, sleeping jasnya ia buka tergesa-gesa dan
dihempaskan di sofa.
Bersambung ke bagian 02